ARTICLE - 05 Oktober 2026 - 105 kali dilihat

FSPTI: FONDASI PERJUANGAN, KONSOLIDASI ORGANISASI, DAN ARAH BARU PEKERJA TELEKOMUNIKASI INDONESIA

Guntur OR Tondang: Membangun Serikat yang Profesional, Independen, Demokratis, dan Berorientasi pada Kesejahteraan Pekerja

FSPTI: FONDASI PERJUANGAN, KONSOLIDASI ORGANISASI, DAN ARAH BARU PEKERJA TELEKOMUNIKASI INDONESIA
105 kali dilihat
Jakarta/Indonesia — Sebuah organisasi pekerja tidak cukup hanya memiliki nama, kepengurusan, dan semangat perjuangan. Organisasi yang kuat membutuhkan aturan, arah, sistem, disiplin, serta pedoman yang menjadi pegangan bersama. Atas dasar itulah Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Telekomunikasi Indonesia (SPTI) menyusun Buku Organisasi SPTI, yang memuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dokumen pendirian, peraturan organisasi, pedoman organisasi, Standar Operasional Prosedur (SOP), serta administrasi organisasi. Buku ini bukan sekadar kumpulan dokumen administratif. Lebih jauh, buku organisasi merupakan fondasi bagi perjalanan SPTI dalam membangun kekuatan pekerja telekomunikasi Indonesia. Dari Legalitas Menuju Kekuatan Organisasi Legalitas adalah langkah penting, tetapi legalitas bukanlah akhir perjuangan. Bagi Ketua Umum FSPTI, Guntur OR Tondang, keberadaan organisasi harus mampu diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi pekerja. Semangat tersebut tercermin dalam arah organisasi SPTI yang mengusung motto: “Solidaritas • Profesionalisme • Kesejahteraan” Tiga kata tersebut bukan sekadar slogan. Solidaritas berarti pekerja tidak boleh berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan ketenagakerjaan. Profesionalisme berarti perjuangan pekerja harus dilakukan dengan pengetahuan, organisasi yang tertib, kemampuan bernegosiasi, serta memahami aturan dan mekanisme yang berlaku. Sementara kesejahteraan menjadi tujuan penting agar pekerja telekomunikasi memperoleh kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, SPTI diarahkan bukan hanya menjadi organisasi yang hadir ketika terjadi persoalan, tetapi menjadi rumah bersama bagi pekerja telekomunikasi Indonesia. Buku Organisasi sebagai Kompas Perjuangan Perjalanan sebuah serikat pekerja akan menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan pendapat, perubahan industri, perkembangan teknologi, dinamika hubungan industrial, hingga persoalan kesejahteraan pekerja membutuhkan organisasi yang memiliki sistem yang jelas. Di sinilah Buku Organisasi SPTI memiliki peran strategis. AD/ART menjadi dasar dalam menjalankan organisasi. Peraturan dan pedoman organisasi memberikan arah bagi pengurus dalam mengambil keputusan. SOP menciptakan standar kerja yang lebih tertib, sementara administrasi organisasi memastikan setiap kegiatan dapat dipertanggungjawabkan. Organisasi yang memiliki aturan akan memiliki arah. Organisasi yang memiliki sistem akan memiliki kekuatan. Dan organisasi yang memiliki solidaritas akan memiliki daya tawar. Karena itu, Buku Organisasi SPTI harus menjadi pedoman yang dipahami dan dijalankan oleh seluruh jajaran organisasi, mulai dari tingkat pusat hingga struktur di daerah dan unit kerja. Visi Besar SPTI SPTI membawa visi: “Mewujudkan Serikat Pekerja Telekomunikasi Indonesia yang profesional, independen, demokratis, modern, dan berintegritas dalam memperjuangkan hak, perlindungan, kesejahteraan, serta peningkatan kompetensi pekerja telekomunikasi Indonesia.” Visi tersebut memberikan pesan bahwa masa depan serikat pekerja tidak boleh berhenti pada perjuangan konvensional. Pekerja telekomunikasi hidup di tengah industri yang terus berubah. Digitalisasi, perkembangan jaringan, teknologi baru, pola kerja, serta perubahan model bisnis membutuhkan pekerja yang terampil, adaptif, dan memiliki daya saing. Karena itu, perjuangan serikat pekerja juga harus mencakup peningkatan kompetensi, pendidikan organisasi, kaderisasi, perlindungan hukum, serta penguatan kemampuan pekerja menghadapi perubahan industri. Guntur OR Tondang dan Tantangan Membangun Organisasi Sebagai Ketua Umum FSPTI, Guntur OR Tondang menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa semangat membangun organisasi tidak berhenti pada dokumen. Buku Organisasi SPTI harus menjadi instrumen untuk membangun kedisiplinan, kesatuan langkah, dan kesamaan visi di seluruh jajaran. Setiap pengurus harus memahami tugasnya. Setiap anggota harus mengetahui hak dan kewajibannya. Setiap struktur organisasi harus bekerja sesuai fungsi dan tanggung jawabnya. Dan setiap perjuangan harus dilakukan dengan mengedepankan solidaritas, profesionalisme, integritas, serta kepentingan pekerja. Inilah yang akan menentukan apakah sebuah organisasi hanya tercatat secara administratif atau benar-benar tumbuh menjadi kekuatan kolektif pekerja. Saatnya Pekerja Telekomunikasi Bersatu Industri telekomunikasi merupakan salah satu sektor strategis dalam kehidupan bangsa. Di balik jaringan komunikasi yang digunakan masyarakat setiap hari, terdapat ribuan pekerja yang bekerja di lapangan maupun di berbagai bidang pendukung. Operator, vendor, subkontraktor, teknisi, pekerja instalasi, pemeliharaan jaringan, fiber optic, BTS, microwave, ISP, operation and maintenance, hingga berbagai profesi pendukung lainnya merupakan bagian dari ekosistem telekomunikasi Indonesia. Mereka membutuhkan organisasi yang mampu menjadi wadah komunikasi, perlindungan, pengembangan kapasitas, dan perjuangan bersama. Karena itu, SPTI mengajak pekerja telekomunikasi Indonesia untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Persoalan pekerja tidak akan menjadi kuat apabila diperjuangkan secara terpisah. Namun ketika pekerja bersatu dalam organisasi yang tertib, profesional, dan berintegritas, suara pekerja akan memiliki daya tawar yang jauh lebih besar. Buku Ini Adalah Awal dari Perjalanan Besar Edisi perdana Buku Organisasi SPTI Tahun 2026 harus dipandang sebagai sebuah tonggak. Bukan akhir. Bukan sekadar buku. Tetapi kompas organisasi untuk perjalanan panjang SPTI. Dari buku inilah diharapkan lahir budaya organisasi yang lebih profesional, struktur yang semakin kuat, kader-kader pekerja yang berkualitas, serta perjuangan yang semakin terarah. Kepemimpinan Guntur OR Tondang bersama seluruh jajaran FSPTI/SPTI memiliki tantangan untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai tindakan nyata. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah serikat pekerja bukan hanya terletak pada siapa yang menjadi ketua, tetapi pada seberapa solid anggotanya, seberapa kuat strukturnya, seberapa tertib organisasinya, dan seberapa nyata manfaatnya bagi pekerja. **SOLIDARITAS ADALAH KEKUATAN. PROFESIONALISME ADALAH JALAN. KESEJAHTERAAN ADALAH TUJUAN.** Serikat Pekerja Telekomunikasi Indonesia (SPTI) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Edisi Perdana 2026 “Bersatu dalam organisasi, kuat dalam perjuangan, sejahtera dalam kehidupan.”
Bagikan berita
WhatsAppFacebookXLinkedIn
Butuh bantuan?Chat WhatsApp